Belajar ilmu falak
Bagaimana awal bulan ditentukan, dan kenapa bisa berbeda
Setiap jawaban di Falak dihitung dari rumus astronomi yang bisa diperiksa. Halaman ini menjelaskan istilahnya, aturannya, dan seberapa jauh angkanya bisa dipercaya.
Istilah
- Hisab
- Perhitungan astronomis posisi matahari dan bulan untuk menentukan waktu - termasuk awal bulan Hijriah.
- Rukyat
- Pengamatan langsung hilal dengan mata atau alat optik saat matahari terbenam. Falak tidak melakukan rukyat.
- Hilal
- Sabit bulan yang sangat tipis, terlihat sesaat setelah matahari terbenam, sehari atau dua setelah ijtimak.
- Ijtimak (konjungsi)
- Saat bulan dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama. Sebelum ijtimak, tidak ada hilal bulan baru.
- Petang penentu
- Matahari terbenam pertama setelah ijtimak - petang yang dinilai oleh semua kriteria, dan yang dibahas sidang isbat.
- Tinggi hilal
- Sudut bulan di atas ufuk saat matahari terbenam (toposentris: dilihat dari permukaan bumi, bukan pusatnya).
- Elongasi
- Jarak sudut antara bulan dan matahari. Makin besar, makin lebar sabit yang tersinari.
- Selisih terbenam (lag)
- Berapa menit bulan terbenam setelah matahari. Bila negatif, bulan terbenam lebih dulu.
- Istikmal
- Menggenapkan bulan menjadi 30 hari ketika hilal belum memenuhi kriteria pada petang penentu.
- Sidang isbat
- Sidang Kementerian Agama RI yang menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah dengan mempertimbangkan hisab dan laporan rukyat.
Dari ijtimak ke tanggal 1
- 1
Cari ijtimak
Falak mencari saat bujur bulan dan matahari sama (model ELP2000/Meeus untuk bulan, VSOP87 terpangkas untuk matahari).
- 2
Tentukan petang penentu
Matahari terbenam pertama di lokasi Anda setelah ijtimak.
- 3
Ukur langitnya
Pada saat matahari terbenam: tinggi bulan (toposentris), elongasi, umur bulan, selisih terbenam, iluminasi, lebar sabit.
- 4
Terapkan kriteria
Tiap kriteria menilai angka-angka itu. Bila terpenuhi, tanggal 1 adalah esok harinya; bila tidak, bulan berjalan digenapkan dan tanggal 1 mundur sehari.
- Tinggi bulan
- 6,03°
- Elongasi
- 10,36°
- Umur bulan
- 18 j 54 m
- Selisih terbenam
- 29 mnt
- Iluminasi
- 0,81%
Tiga kriteria
Ketiganya menilai langit yang sama pada petang yang sama. Mereka berbeda karena menanyakan hal yang berbeda: apakah hilal ada, apakah ia mungkin terlihat, atau seberapa dekat ia dengan batas pengamatan yang pernah tercatat.
MABIMS 2021
Dipakai Kemenag RI dalam sidang isbat
Tinggi hilal ≥ 3° dan elongasi ≥ 6,4° saat matahari terbenam
Dua syarat karena menanyakan dua hal berbeda. Tinggi bertanya apakah bulan masih cukup tinggi di langit yang sudah cukup gelap. Elongasi bertanya apakah bulan sudah cukup jauh dari matahari untuk tampak bercahaya: di bawah sekitar 6,4° (batas Danjon) sabit terlalu tipis untuk terlihat, setinggi apa pun letaknya. Keduanya harus terpenuhi; tinggi yang nyaman tidak bisa menolong sabit yang secara fisik belum ada.
- MABIMS 2021 Kriteria baru MABIMS: tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4°, disepakati para Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (2021), berlaku di Indonesia sejak 2022.
- Bimas Islam Kemenag Sejarah dan Perkembangan Kriteria Hilal MABIMS dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama RI.
- Odeh 2004 M. Sh. Odeh, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy 18, 39–64 (2004).
Wujudul Hilal
Dikenal sebagai kriteria Muhammadiyahrujukan belum diverifikasi
Ijtimak sebelum matahari terbenam, dan bulan terbenam setelah matahari
Bertanya apakah hilal sudah ADA di atas ufuk, bukan apakah seseorang bisa melihatnya. Bila bulan terbenam lebih dulu daripada matahari, bulan sudah hilang pada satu-satunya jendela pengamatan, sehingga selisih waktu terbenam adalah seluruh ujiannya.
Muhammadiyah telah mengumumkan peralihan ke Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang tidak dihitung oleh Falak. Periksa maklumat resmi Muhammadiyah untuk tanggal yang mereka tetapkan.
- Rujukan belum diverifikasi The criterion used by Muhammadiyah: conjunction before sunset and moonset after sunset, irrespective of whether the crescent would be observable.
Odeh 2004
Kriteria visibilitas astronomi, rujukan internasional
Nilai-v dari busur pandang dan lebar sabit, empat tingkat
Bukan ambang tunggal, melainkan jarak. Odeh mencocokkan kurva pada 737 pengamatan sabit tertipis yang benar-benar terlihat pada tiap lebar; nilai-v adalah seberapa jauh petang ini berada di atas kurva itu. Positif dan besar berarti mudah terlihat, mendekati nol berarti di tepi batas yang pernah dilaporkan - karena itu hasilnya empat tingkat, bukan ya atau tidak.
- Odeh 2004 M. Sh. Odeh, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy 18, 39–64 (2004).
Cara Falak menghitung
Seluruh perhitungan berjalan di peramban Anda, tanpa server dan tanpa API astronomi pihak ketiga. Posisi matahari memakai VSOP87 yang dipangkas, posisi bulan memakai ELP2000 menurut Astronomical Algorithms karya Jean Meeus, dengan koreksi paralaks untuk tinggi bulan dan refraksi standar di ufuk. Tidak ada kecerdasan buatan di jalur perhitungan - hanya rumus yang deterministik.
Waktu salat memakai sudut matahari: Subuh dan Isya pada sudut depresi yang ditetapkan konvensi (Kemenag RI: 20° dan 18°), Terbit dan Magrib saat piringan matahari menyentuh ufuk, Zuhur sesaat setelah transit, dan Asar dari panjang bayangan. Arah kiblat adalah arah awal lingkaran besar menuju Ka'bah (21,4225° LU, 39,8262° BT).
Seberapa bisa dipercaya
50
waktu ijtimak historis dicocokkan dengan efemeris JPL DE440, selisih di bawah 5 menit
0,06°
selisih azimut bulan terbesar terhadap JPL DE440 (matahari 0,014°)
±2.000
vektor uji yang mengikat mesin peramban ke mesin acuan Python, dicek setiap rilis
JPL DE440 (lewat pustaka Skyfield) hanya dipakai dalam pengujian, tidak pernah saat aplikasi berjalan. Hasil yang terlalu dekat dengan batas kriteria - di dalam toleransi mesin - ditandai “belum pasti”, bukan dibulatkan diam-diam.
Batasan model
- Hanya refraksi standar
- Terbenam matahari dan bulan memakai refraksi standar 34 menit busur di ufuk. Suhu dan tekanan udara sebenarnya dapat menggeser terbenam hingga sekitar satu menit, dan tinggi bulan berubah kira-kira seperempat derajat per menit di lintang Indonesia.
- Elongasi geosentris
- Apakah elongasi 6,4° MABIMS 2021 dimaksudkan toposentris masih diperdebatkan; PBNU berpendapat demikian. Falak melaporkan nilai geosentris yang lazim, yang berbeda sekitar 0,1–0,2°.
- Busur pandang Odeh didekati
- Odeh menilai pada 'waktu terbaik', ketika matahari sekitar 4,5° di bawah ufuk. Falak menilai saat terbenam dan mengambil busur pandang dari tinggi bulan di sana - penyederhanaan yang terdokumentasi dan dapat menggeser klasifikasi di dekat batasnya.
- Permukaan laut, bumi bulat
- Koreksi toposentris mengabaikan ketinggian pengamat dan kepepatan bumi. Keduanya jauh di bawah satu menit busur pada ketinggian ini, dan aplikasi tidak menanyakan ketinggian tempat.
Hisab, bukan penetapan resmi. Selengkapnya
Ini hasil hisab (perhitungan), bukan rukyat (pengamatan langsung). Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah di Indonesia ditetapkan resmi melalui sidang isbat Kemenag, yang dapat mempertimbangkan laporan rukyat yang tidak diperhitungkan di sini. Perbedaan antar metode memang terjadi dan sengaja ditampilkan apa adanya, bukan kesalahan.
Sumber
- MABIMS 2021 Kriteria baru MABIMS: tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4°, disepakati para Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (2021), berlaku di Indonesia sejak 2022.Replaced the earlier 2° altitude / 3° elongation / 8-hour moon-age criterion. The change traces back to the MABIMS Muzakarah Rukyah dan Takwim Islam (Malaysia, 2016) and the Rekomendasi Jakarta of 2017 before being agreed at ministerial level in 2021.
- Bimas Islam Kemenag Sejarah dan Perkembangan Kriteria Hilal MABIMS dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama RI.
- MABIMS 1992–2021 The criterion MABIMS used before 2021, commonly written 2-3-8: hilal altitude at least 2°, elongation at least 3°, and moon age at least 8 hours at sunset. In use from 1992 until the 2021 agreement replaced it.Replaced because a 2° crescent with 3° elongation is so thin, and so close to the twilight glare, that it was very rarely actually sighted - the calculation kept declaring months that observers could not confirm.
- Odeh 2004 M. Sh. Odeh, “New Criterion for Lunar Crescent Visibility”, Experimental Astronomy 18, 39–64 (2004).Built from 737 observations, roughly half collected by the Islamic Crescent Observation Project (ICOP), and expressed in topocentric arc of vision against topocentric crescent width. The same dataset is where the 6.4° Danjon limit that MABIMS 2021 adopts as its elongation floor comes from.
- Rujukan belum diverifikasi The criterion used by Muhammadiyah: conjunction before sunset and moonset after sunset, irrespective of whether the crescent would be observable.No primary Majelis Tarjih document has been cross-checked for this entry yet. The rule as implemented is standard and uncontested, but the citation is owed.
- Meeus Jean Meeus, Astronomical Algorithms, 2nd ed. — Ch. 25 (solar position), Ch. 47 (lunar position, truncated ELP2000-82B), Ch. 15 (rise/set standard altitudes), Ch. 40 (parallax).
- JPL DE440 Conjunction times cross-checked against JPL DE440 via Skyfield over 50 historical months, asserting agreement within 5 minutes. Test-only dependency; never called at runtime.