Kabupaten

Donggala

Profil risiko historis dari 321 gempa M4+ dalam radius 100 km, 1977–2026.

Bagikan ke WhatsApp

Dalam 49 tahun terakhir (1977–2026) tercatat 62 gempa M5 ke atas dalam radius 100 km dari Donggala. Yang terbesar M7.5 pada 2018.

Rekaman gempa 1970–sekarang

325 kejadian tercatat. Satu paku per kejadian — tinggi menandai magnitudo, warna menandai kedalaman. Rentang tenang terpanjang dan gempa terbesar ditandai otomatis. Skala waktu dan magnitudo sama pada trace pembanding.

Rekaman gempa 1970–sekarang untuk Donggala dibandingkan Kota Palu, sumbu waktu dan magnitudo sama untuk keduanya
Rekaman gempa 1970–sekarang untuk Donggala dibandingkan Kota Palu, sumbu waktu dan magnitudo sama untuk keduanya
RingkasanNilai
Donggala — Rentang tenang terpanjang (tanpa M5 ke atas)8,1 tahun, 27 Nov 1977–29 Des 1985
Donggala — Gempa terbesar tercatatM7.5 pada 28 Sep 2018
Donggala — 1970-an4 kejadian, terbesar M5.5
Donggala — 1980-an17 kejadian, terbesar M5.0
Donggala — 1990-an33 kejadian, terbesar M5.9
Donggala — 2000-an47 kejadian, terbesar M6.3
Donggala — 2010-an172 kejadian, terbesar M7.5
Donggala — 2020-an52 kejadian, terbesar M6.7
Kota Palu — Rentang tenang terpanjang (tanpa M5 ke atas)5,5 tahun, 29 Des 1985–10 Jul 1991
Kota Palu — Gempa terbesar tercatatM7.5 pada 28 Sep 2018
Kota Palu — 1970-an3 kejadian, terbesar M5.5
Kota Palu — 1980-an24 kejadian, terbesar M5.5
Kota Palu — 1990-an38 kejadian, terbesar M5.9
Kota Palu — 2000-an55 kejadian, terbesar M6.3
Kota Palu — 2010-an233 kejadian, terbesar M7.5
Kota Palu — 2020-an68 kejadian, terbesar M6.7
Warna = kedalaman:DangkalMenengahDalam

Sumber data: USGS · BMKG

Ringkasan risiko

86skor / 100

Aktivitas Tinggi

Lebih aktif dari 96% dari 52 wilayah yang sudah diskor di sini — bukan seluruh Indonesia

Aktivitas seismik historis di sekitar titik ini termasuk paling tinggi di Indonesia.

Risiko tsunami: TinggiWilayah pesisir
Gempa M4+ (radius 100 km)Seluruh kejadian M4.0 ke atas dalam radius 100 km dari titik pusat wilayah, sepanjang catatan.321
Gempa M5+62
Gempa M6+5
Gempa M7+1
Magnitudo terbesarM7.5
Kedalaman rata-rataGempa dangkal (<70 km) umumnya lebih terasa dan lebih merusak di permukaan.27 km
Sesar aktif terdekatPalu-Koro Fault
Jarak ke sesar25km

Data historis 1977–2026. Jumlah kejadian dihitung dalam radius tetap 100 km dan tidak dinormalisasi terhadap luas wilayah maupun populasi — gunakan persentil untuk perbandingan relatif. Indikator pola historis, bukan prediksi.

Frekuensi magnitudo

Berapa banyak gempa di tiap tingkat kekuatan, sepanjang catatan.

Jumlah gempa tercatat per tingkat magnitudo, dalam radius 100 km
Jumlah gempa tercatat per tingkat magnitudo, dalam radius 100 km
Tingkat magnitudoJumlah kejadian
M4+321
M5+62
M6+5
M7+1

Tiap satu angka magnitudo adalah lompatan besar. Skala magnitudo bersifat logaritmik: naik 1 angka berarti guncangan di seismograf ±10 kali lebih besar, dan energi yang dilepaskan ±32 kali lebih besar. Jadi M7 bukan “sedikit di atas” M6 — energinya sekitar 32 kali lipat, dan M7 dibanding M5 sekitar 1.000 kali lipat.

Itu juga sebabnya batangnya memendek drastis: gempa besar melepas energi jauh lebih banyak, dan kejadian sebesar itu jauh lebih jarang. Pola menurun seperti ini berlaku di seluruh dunia, bukan khas wilayah ini.

Jumlah dihitung dalam radius 100 km dari pusat wilayah. Angka perbandingan energi di atas adalah pembulatan yang lazim dipakai untuk penjelasan, bukan hasil hitungan per kejadian.

Distribusi kedalaman

Kedalaman menentukan seberapa keras guncangan terasa di permukaan.

Jumlah gempa tercatat per rentang kedalaman
Jumlah gempa tercatat per rentang kedalaman
Rentang kedalaman (km)Jumlah kejadian
0–30180
30–70127
70–15017
150–3001
300+0
Dangkal < 30 kmMenengah 30–100 kmDalam > 100 km

Kenapa kedalaman dihitung terpisah dari kekuatan. Gempa M6 pada kedalaman 10 km dan M6 pada kedalaman 200 km punya magnitudo sama, tetapi yang dangkal melepaskan energinya jauh lebih dekat ke permukaan, sehingga guncangan yang sampai ke bangunan jauh lebih keras dan wilayah rusaknya lebih sempit tapi lebih parah. Gempa dalam menyebar energinya lewat jarak yang lebih panjang, jadi terasa lebih luas tetapi lebih lemah.

Yogyakarta 2006 adalah contohnya: M6,3 — tidak termasuk gempa terbesar di arsip ini — tetapi kedalamannya hanya sekitar 12 km, dan menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam catatan modern Indonesia. Itulah sebabnya batang di sebelah kiri grafik ini lebih penting daripada tingginya saja.

Batas 70 km yang dipakai skor adalah garis yang kami tetapkan untuk memisahkan “dangkal” dari “dalam”. Alam tidak punya batas setegas itu — kedalaman 69 km dan 71 km hampir sama saja.

Dari mana skor ini datang

Empat komponen berbobot, dihitung dari catatan gempa dalam radius 100 km.

  • Frekuensi40 / 40

    6,42 gempa M4+ per tahun · Gempa M4+ per tahun dalam radius 100 km, penuh pada 5/tahun. Komponen ini sudah mentok.

  • Magnitudo terbesar21 / 30

    M7.5 tercatat · Magnitudo terbesar yang pernah tercatat, M4 → 0 poin, M9 → poin penuh. Pemetaannya lurus meski skala magnitudo logaritmik — penyederhanaan yang kami pilih supaya aturannya bisa diperiksa, dan yang membuat selisih di ujung atas skala tampak lebih kecil daripada selisih energinya.

  • Proporsi gempa dangkal14,2 / 15

    95% kejadian lebih dangkal dari 70 km · Bagian kejadian dengan kedalaman di bawah 70 km, yang umumnya paling merusak.

  • Kedekatan sesar11,2 / 15

    25,36 km ke sesar terdekat · Jarak ke sesar aktif terdekat, penuh di bawah ~10 km, nol pada 100 km.

Kenapa ada dua radius? Skor di atas dihitung dalam radius 100 km supaya bisa dibandingkan langsung dengan wilayah lain, yang semuanya diukur dengan radius sama. Sementara hitungan “gempa M4+ di dekatku” pada kartu hasil memakai radius 50 km, karena itu jarak yang lebih masuk akal disebut “sekitar sini”. Angkanya beda bukan karena salah satu keliru, tapi karena keduanya menjawab pertanyaan berbeda.

Skor total 86,4 dari 100. Tiap komponen dibulatkan satu desimal sendiri-sendiri, jadi penjumlahannya bisa meleset 0,1–0,2 dari skor total — skor total yang jadi acuan.

Skor ini buatan GempaWatch. Datanya resmi — kejadian gempa dari BMKG dan USGS — tetapi pembagian bobotnya kami yang menentukan: angka 40/30/15/15 di atas adalah pilihan editorial kami, bukan ukuran baku seismologi dan bukan indeks resmi lembaga mana pun. Orang lain bisa membobot hal yang sama dengan cara berbeda dan sampai pada angka berbeda. Yang kami janjikan bukan bahwa angka ini benar secara mutlak, melainkan bahwa aturannya terbuka dan bisa kamu periksa sendiri.

Coba ubah angka ini di ScoreLab →

Cakupan data di balik angka ini

Pembagi yang dipakai komponen frekuensi, dan apa yang tidak ada dalam catatan.

Catatan gempa di sekitar wilayah ini membentang 19772026, yaitu 50 tahun berisi 321 gempa M4+. Rentang inilah yang jadi pembagi saat menghitung komponen frekuensi.

  • Rentangnya berbeda tiap lokasi. Rentang dihitung dari kejadian yang ditemukan di dekat lokasi, bukan dari jendela tetap. Wilayah yang sepi bisa punya rentang pendek, sehingga rata-rata per tahunnya terlihat lebih tinggi daripada kalau dibagi seluruh periode arsip.
  • Ada batas magnitudo. Arsip historis USGS disaring pada M4,0 ke atas, jadi gempa yang lebih kecil umumnya tidak terhitung. Kejadian langsung dari BMKG bisa lebih kecil dari itu.
  • Dekade awal lebih tipis. Jaringan seismik dulu lebih jarang, sehingga kejadian lama lebih mungkin luput dari catatan dibanding kejadian belakangan.

Peringkat aktivitas

Posisi wilayah ini di antara semua wilayah yang sudah diskor di sini — bukan seluruh Indonesia.

#3Skor aktivitas 86 dari 100DonggalaPeringkat 3 dari 52 wilayah yang sudah diskorTinggi
Paling aktifPaling tenang

Langkah kesiapsiagaan

Disesuaikan dengan tingkat aktivitas wilayah ini dan status pesisirnya.

Siap Gempa

0/9

Checklist edukatif umum. Untuk panduan resmi, rujuk BNPB & BMKG.