Kota

Kota Yogyakarta

Profil risiko historis dari 94 gempa M4+ dalam radius 100 km, 1974–2026.

Bagikan ke WhatsApp

Dalam 52 tahun terakhir (1974–2026) tercatat 17 gempa M5 ke atas dalam radius 100 km dari Kota Yogyakarta. Yang terbesar M6.3 pada 2006.

Rekaman gempa 1970–sekarang

102 kejadian tercatat. Satu paku per kejadian — tinggi menandai magnitudo, warna menandai kedalaman. Rentang tenang terpanjang dan gempa terbesar ditandai otomatis. Skala waktu dan magnitudo sama pada trace pembanding.

Rekaman gempa 1970–sekarang untuk Kota Yogyakarta dibandingkan Jakarta Pusat, sumbu waktu dan magnitudo sama untuk keduanya
Rekaman gempa 1970–sekarang untuk Kota Yogyakarta dibandingkan Jakarta Pusat, sumbu waktu dan magnitudo sama untuk keduanya
RingkasanNilai
Kota Yogyakarta — Rentang tenang terpanjang (tanpa M5 ke atas)15,1 tahun, 26 Mei 2006–27 Jun 2021
Kota Yogyakarta — Gempa terbesar tercatatM6.3 pada 25 Mei 2001
Kota Yogyakarta — 1970-an5 kejadian, terbesar M5.3
Kota Yogyakarta — 1980-an6 kejadian, terbesar M5.7
Kota Yogyakarta — 1990-an10 kejadian, terbesar M5.5
Kota Yogyakarta — 2000-an36 kejadian, terbesar M6.3
Kota Yogyakarta — 2010-an23 kejadian, terbesar M4.8
Kota Yogyakarta — 2020-an22 kejadian, terbesar M5.1
Jakarta Pusat — Rentang tenang terpanjang (tanpa M5 ke atas)6,4 tahun, 3 Mar 2001–8 Agu 2007
Jakarta Pusat — Gempa terbesar tercatatM6.5 pada 9 Okt 1985
Jakarta Pusat — 1970-an16 kejadian, terbesar M6.0
Jakarta Pusat — 1980-an13 kejadian, terbesar M6.5
Jakarta Pusat — 1990-an31 kejadian, terbesar M5.3
Jakarta Pusat — 2000-an41 kejadian, terbesar M6.1
Jakarta Pusat — 2010-an52 kejadian, terbesar M5.2
Jakarta Pusat — 2020-an52 kejadian, terbesar M5.9
Warna = kedalaman:DangkalMenengahDalam

Sumber data: USGS · BMKG

Ringkasan risiko

52skor / 100

Aktivitas Sedang

Lebih aktif dari 40% dari 52 wilayah yang sudah diskor di sini — bukan seluruh Indonesia

Aktivitas seismik historis di sekitar titik ini berada di kisaran menengah nasional.

Risiko tsunami:
Gempa M4+ (radius 100 km)Seluruh kejadian M4.0 ke atas dalam radius 100 km dari titik pusat wilayah, sepanjang catatan.94
Gempa M5+17
Gempa M6+2
Gempa M7+0
Magnitudo terbesarM6.3
Kedalaman rata-rataGempa dangkal (<70 km) umumnya lebih terasa dan lebih merusak di permukaan.67 km
Sesar aktif terdekatOpak Fault (Yogyakarta)
Jarak ke sesar1km

Data historis 1974–2026. Jumlah kejadian dihitung dalam radius tetap 100 km dan tidak dinormalisasi terhadap luas wilayah maupun populasi — gunakan persentil untuk perbandingan relatif. Indikator pola historis, bukan prediksi.

Frekuensi magnitudo

Berapa banyak gempa di tiap tingkat kekuatan, sepanjang catatan.

Jumlah gempa tercatat per tingkat magnitudo, dalam radius 100 km
Jumlah gempa tercatat per tingkat magnitudo, dalam radius 100 km
Tingkat magnitudoJumlah kejadian
M4+94
M5+17
M6+2
M7+0

Tiap satu angka magnitudo adalah lompatan besar. Skala magnitudo bersifat logaritmik: naik 1 angka berarti guncangan di seismograf ±10 kali lebih besar, dan energi yang dilepaskan ±32 kali lebih besar. Jadi M7 bukan “sedikit di atas” M6 — energinya sekitar 32 kali lipat, dan M7 dibanding M5 sekitar 1.000 kali lipat.

Itu juga sebabnya batangnya memendek drastis: gempa besar melepas energi jauh lebih banyak, dan kejadian sebesar itu jauh lebih jarang. Pola menurun seperti ini berlaku di seluruh dunia, bukan khas wilayah ini.

Jumlah dihitung dalam radius 100 km dari pusat wilayah. Angka perbandingan energi di atas adalah pembulatan yang lazim dipakai untuk penjelasan, bukan hasil hitungan per kejadian.

Distribusi kedalaman

Kedalaman menentukan seberapa keras guncangan terasa di permukaan.

Jumlah gempa tercatat per rentang kedalaman
Jumlah gempa tercatat per rentang kedalaman
Rentang kedalaman (km)Jumlah kejadian
0–3033
30–7026
70–15032
150–30011
300+0
Dangkal < 30 kmMenengah 30–100 kmDalam > 100 km

Kenapa kedalaman dihitung terpisah dari kekuatan. Gempa M6 pada kedalaman 10 km dan M6 pada kedalaman 200 km punya magnitudo sama, tetapi yang dangkal melepaskan energinya jauh lebih dekat ke permukaan, sehingga guncangan yang sampai ke bangunan jauh lebih keras dan wilayah rusaknya lebih sempit tapi lebih parah. Gempa dalam menyebar energinya lewat jarak yang lebih panjang, jadi terasa lebih luas tetapi lebih lemah.

Yogyakarta 2006 adalah contohnya: M6,3 — tidak termasuk gempa terbesar di arsip ini — tetapi kedalamannya hanya sekitar 12 km, dan menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam catatan modern Indonesia. Itulah sebabnya batang di sebelah kiri grafik ini lebih penting daripada tingginya saja.

Batas 70 km yang dipakai skor adalah garis yang kami tetapkan untuk memisahkan “dangkal” dari “dalam”. Alam tidak punya batas setegas itu — kedalaman 69 km dan 71 km hampir sama saja.

Dari mana skor ini datang

Empat komponen berbobot, dihitung dari catatan gempa dalam radius 100 km.

  • Frekuensi14,2 / 40

    1,77 gempa M4+ per tahun · Gempa M4+ per tahun dalam radius 100 km, penuh pada 5/tahun.

  • Magnitudo terbesar13,8 / 30

    M6.3 tercatat · Magnitudo terbesar yang pernah tercatat, M4 → 0 poin, M9 → poin penuh. Pemetaannya lurus meski skala magnitudo logaritmik — penyederhanaan yang kami pilih supaya aturannya bisa diperiksa, dan yang membuat selisih di ujung atas skala tampak lebih kecil daripada selisih energinya.

  • Proporsi gempa dangkal8,7 / 15

    58% kejadian lebih dangkal dari 70 km · Bagian kejadian dengan kedalaman di bawah 70 km, yang umumnya paling merusak.

  • Kedekatan sesar14,8 / 15

    1,19 km ke sesar terdekat · Jarak ke sesar aktif terdekat, penuh di bawah ~10 km, nol pada 100 km.

Kenapa ada dua radius? Skor di atas dihitung dalam radius 100 km supaya bisa dibandingkan langsung dengan wilayah lain, yang semuanya diukur dengan radius sama. Sementara hitungan “gempa M4+ di dekatku” pada kartu hasil memakai radius 50 km, karena itu jarak yang lebih masuk akal disebut “sekitar sini”. Angkanya beda bukan karena salah satu keliru, tapi karena keduanya menjawab pertanyaan berbeda.

Skor total 51,5 dari 100. Tiap komponen dibulatkan satu desimal sendiri-sendiri, jadi penjumlahannya bisa meleset 0,1–0,2 dari skor total — skor total yang jadi acuan.

Skor ini buatan GempaWatch. Datanya resmi — kejadian gempa dari BMKG dan USGS — tetapi pembagian bobotnya kami yang menentukan: angka 40/30/15/15 di atas adalah pilihan editorial kami, bukan ukuran baku seismologi dan bukan indeks resmi lembaga mana pun. Orang lain bisa membobot hal yang sama dengan cara berbeda dan sampai pada angka berbeda. Yang kami janjikan bukan bahwa angka ini benar secara mutlak, melainkan bahwa aturannya terbuka dan bisa kamu periksa sendiri.

Coba ubah angka ini di ScoreLab →

Cakupan data di balik angka ini

Pembagi yang dipakai komponen frekuensi, dan apa yang tidak ada dalam catatan.

Catatan gempa di sekitar wilayah ini membentang 19742026, yaitu 53 tahun berisi 94 gempa M4+. Rentang inilah yang jadi pembagi saat menghitung komponen frekuensi.

  • Rentangnya berbeda tiap lokasi. Rentang dihitung dari kejadian yang ditemukan di dekat lokasi, bukan dari jendela tetap. Wilayah yang sepi bisa punya rentang pendek, sehingga rata-rata per tahunnya terlihat lebih tinggi daripada kalau dibagi seluruh periode arsip.
  • Ada batas magnitudo. Arsip historis USGS disaring pada M4,0 ke atas, jadi gempa yang lebih kecil umumnya tidak terhitung. Kejadian langsung dari BMKG bisa lebih kecil dari itu.
  • Dekade awal lebih tipis. Jaringan seismik dulu lebih jarang, sehingga kejadian lama lebih mungkin luput dari catatan dibanding kejadian belakangan.

Peringkat aktivitas

Posisi wilayah ini di antara semua wilayah yang sudah diskor di sini — bukan seluruh Indonesia.

#32Skor aktivitas 52 dari 100Kota YogyakartaPeringkat 32 dari 52 wilayah yang sudah diskorSedang
Paling aktifPaling tenang

Langkah kesiapsiagaan

Disesuaikan dengan tingkat aktivitas wilayah ini dan status pesisirnya.

Siap Gempa

0/4

Checklist edukatif umum. Untuk panduan resmi, rujuk BNPB & BMKG.