Kabupaten

Simeulue

Profil risiko historis dari 1.395 gempa M4+ dalam radius 100 km, 1972–2026.

Bagikan ke WhatsApp

Dalam 54 tahun terakhir (1972–2026) tercatat 180 gempa M5 ke atas dalam radius 100 km dari Simeulue. Yang terbesar M8.6 pada 2005.

Rekaman gempa 1970–sekarang

1.395 kejadian tercatat. Satu paku per kejadian — tinggi menandai magnitudo, warna menandai kedalaman. Rentang tenang terpanjang dan gempa terbesar ditandai otomatis. Skala waktu dan magnitudo sama pada trace pembanding.

Rekaman gempa 1970–sekarang untuk Simeulue dibandingkan Padang, sumbu waktu dan magnitudo sama untuk keduanya
Rekaman gempa 1970–sekarang untuk Simeulue dibandingkan Padang, sumbu waktu dan magnitudo sama untuk keduanya
RingkasanNilai
Simeulue — Rentang tenang terpanjang (tanpa M5 ke atas)4,0 tahun, 7 Apr 1978–22 Mar 1982
Simeulue — Gempa terbesar tercatatM8.6 pada 28 Mar 2005
Simeulue — 1970-an40 kejadian, terbesar M5.6
Simeulue — 1980-an35 kejadian, terbesar M5.6
Simeulue — 1990-an46 kejadian, terbesar M6.3
Simeulue — 2000-an845 kejadian, terbesar M8.6
Simeulue — 2010-an307 kejadian, terbesar M7.8
Simeulue — 2020-an122 kejadian, terbesar M6.4
Padang — Rentang tenang terpanjang (tanpa M5 ke atas)5,1 tahun, 9 Des 1994–29 Des 1999
Padang — Gempa terbesar tercatatM7.6 pada 30 Sep 2009
Padang — 1970-an9 kejadian, terbesar M6.1
Padang — 1980-an21 kejadian, terbesar M5.4
Padang — 1990-an29 kejadian, terbesar M6.4
Padang — 2000-an143 kejadian, terbesar M7.6
Padang — 2010-an71 kejadian, terbesar M6.3
Padang — 2020-an49 kejadian, terbesar M5.2
Warna = kedalaman:DangkalMenengahDalam

Sumber data: USGS · BMKG

Ringkasan risiko

93skor / 100

Aktivitas Tinggi

Lebih aktif dari 100% dari 52 wilayah yang sudah diskor di sini — bukan seluruh Indonesia

Aktivitas seismik historis di sekitar titik ini termasuk paling tinggi di Indonesia.

Risiko tsunami: TinggiWilayah pesisir
Gempa M4+ (radius 100 km)Seluruh kejadian M4.0 ke atas dalam radius 100 km dari titik pusat wilayah, sepanjang catatan.1.395
Gempa M5+180
Gempa M6+23
Gempa M7+4
Magnitudo terbesarM8.6
Kedalaman rata-rataGempa dangkal (<70 km) umumnya lebih terasa dan lebih merusak di permukaan.32 km
Sesar aktif terdekatSunda Megathrust
Jarak ke sesar28km

Data historis 1972–2026. Jumlah kejadian dihitung dalam radius tetap 100 km dan tidak dinormalisasi terhadap luas wilayah maupun populasi — gunakan persentil untuk perbandingan relatif. Indikator pola historis, bukan prediksi.

Frekuensi magnitudo

Berapa banyak gempa di tiap tingkat kekuatan, sepanjang catatan.

Jumlah gempa tercatat per tingkat magnitudo, dalam radius 100 km
Jumlah gempa tercatat per tingkat magnitudo, dalam radius 100 km
Tingkat magnitudoJumlah kejadian
M4+1.395
M5+180
M6+23
M7+4

Tiap satu angka magnitudo adalah lompatan besar. Skala magnitudo bersifat logaritmik: naik 1 angka berarti guncangan di seismograf ±10 kali lebih besar, dan energi yang dilepaskan ±32 kali lebih besar. Jadi M7 bukan “sedikit di atas” M6 — energinya sekitar 32 kali lipat, dan M7 dibanding M5 sekitar 1.000 kali lipat.

Itu juga sebabnya batangnya memendek drastis: gempa besar melepas energi jauh lebih banyak, dan kejadian sebesar itu jauh lebih jarang. Pola menurun seperti ini berlaku di seluruh dunia, bukan khas wilayah ini.

Jumlah dihitung dalam radius 100 km dari pusat wilayah. Angka perbandingan energi di atas adalah pembulatan yang lazim dipakai untuk penjelasan, bukan hasil hitungan per kejadian.

Distribusi kedalaman

Kedalaman menentukan seberapa keras guncangan terasa di permukaan.

Jumlah gempa tercatat per rentang kedalaman
Jumlah gempa tercatat per rentang kedalaman
Rentang kedalaman (km)Jumlah kejadian
0–30442
30–70931
70–15022
150–3000
300+0
Dangkal < 30 kmMenengah 30–100 kmDalam > 100 km

Kenapa kedalaman dihitung terpisah dari kekuatan. Gempa M6 pada kedalaman 10 km dan M6 pada kedalaman 200 km punya magnitudo sama, tetapi yang dangkal melepaskan energinya jauh lebih dekat ke permukaan, sehingga guncangan yang sampai ke bangunan jauh lebih keras dan wilayah rusaknya lebih sempit tapi lebih parah. Gempa dalam menyebar energinya lewat jarak yang lebih panjang, jadi terasa lebih luas tetapi lebih lemah.

Yogyakarta 2006 adalah contohnya: M6,3 — tidak termasuk gempa terbesar di arsip ini — tetapi kedalamannya hanya sekitar 12 km, dan menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam catatan modern Indonesia. Itulah sebabnya batang di sebelah kiri grafik ini lebih penting daripada tingginya saja.

Batas 70 km yang dipakai skor adalah garis yang kami tetapkan untuk memisahkan “dangkal” dari “dalam”. Alam tidak punya batas setegas itu — kedalaman 69 km dan 71 km hampir sama saja.

Dari mana skor ini datang

Empat komponen berbobot, dihitung dari catatan gempa dalam radius 100 km.

  • Frekuensi40 / 40

    25,36 gempa M4+ per tahun · Gempa M4+ per tahun dalam radius 100 km, penuh pada 5/tahun. Komponen ini sudah mentok.

  • Magnitudo terbesar27,6 / 30

    M8.6 tercatat · Magnitudo terbesar yang pernah tercatat, M4 → 0 poin, M9 → poin penuh. Pemetaannya lurus meski skala magnitudo logaritmik — penyederhanaan yang kami pilih supaya aturannya bisa diperiksa, dan yang membuat selisih di ujung atas skala tampak lebih kecil daripada selisih energinya.

  • Proporsi gempa dangkal14,8 / 15

    98% kejadian lebih dangkal dari 70 km · Bagian kejadian dengan kedalaman di bawah 70 km, yang umumnya paling merusak.

  • Kedekatan sesar10,8 / 15

    28,17 km ke sesar terdekat · Jarak ke sesar aktif terdekat, penuh di bawah ~10 km, nol pada 100 km.

Kenapa ada dua radius? Skor di atas dihitung dalam radius 100 km supaya bisa dibandingkan langsung dengan wilayah lain, yang semuanya diukur dengan radius sama. Sementara hitungan “gempa M4+ di dekatku” pada kartu hasil memakai radius 50 km, karena itu jarak yang lebih masuk akal disebut “sekitar sini”. Angkanya beda bukan karena salah satu keliru, tapi karena keduanya menjawab pertanyaan berbeda.

Skor total 93,1 dari 100. Tiap komponen dibulatkan satu desimal sendiri-sendiri, jadi penjumlahannya bisa meleset 0,1–0,2 dari skor total — skor total yang jadi acuan.

Skor ini buatan GempaWatch. Datanya resmi — kejadian gempa dari BMKG dan USGS — tetapi pembagian bobotnya kami yang menentukan: angka 40/30/15/15 di atas adalah pilihan editorial kami, bukan ukuran baku seismologi dan bukan indeks resmi lembaga mana pun. Orang lain bisa membobot hal yang sama dengan cara berbeda dan sampai pada angka berbeda. Yang kami janjikan bukan bahwa angka ini benar secara mutlak, melainkan bahwa aturannya terbuka dan bisa kamu periksa sendiri.

Coba ubah angka ini di ScoreLab →

Cakupan data di balik angka ini

Pembagi yang dipakai komponen frekuensi, dan apa yang tidak ada dalam catatan.

Catatan gempa di sekitar wilayah ini membentang 19722026, yaitu 55 tahun berisi 1.395 gempa M4+. Rentang inilah yang jadi pembagi saat menghitung komponen frekuensi.

  • Rentangnya berbeda tiap lokasi. Rentang dihitung dari kejadian yang ditemukan di dekat lokasi, bukan dari jendela tetap. Wilayah yang sepi bisa punya rentang pendek, sehingga rata-rata per tahunnya terlihat lebih tinggi daripada kalau dibagi seluruh periode arsip.
  • Ada batas magnitudo. Arsip historis USGS disaring pada M4,0 ke atas, jadi gempa yang lebih kecil umumnya tidak terhitung. Kejadian langsung dari BMKG bisa lebih kecil dari itu.
  • Dekade awal lebih tipis. Jaringan seismik dulu lebih jarang, sehingga kejadian lama lebih mungkin luput dari catatan dibanding kejadian belakangan.

Peringkat aktivitas

Posisi wilayah ini di antara semua wilayah yang sudah diskor di sini — bukan seluruh Indonesia.

#1Skor aktivitas 93 dari 100SimeuluePeringkat 1 dari 52 wilayah yang sudah diskorTinggi
Paling aktifPaling tenang

Langkah kesiapsiagaan

Disesuaikan dengan tingkat aktivitas wilayah ini dan status pesisirnya.

Siap Gempa

0/9

Checklist edukatif umum. Untuk panduan resmi, rujuk BNPB & BMKG.