Tentang & metodologi

Bagaimana GempaWatch menghitung risiko

GempaWatch membantu masyarakat memahami risiko gempa di lokasi mereka sendiri — bukan sekadar menampilkan daftar gempa terbaru. Halaman ini menjelaskan datanya dari mana, angkanya dihitung bagaimana, dan apa saja yang tidak bisa disimpulkan darinya.

70.173

Kejadian dalam basis data

1970–2026

Rentang catatan

BMKG + USGS

Sumber data

Bukan sistem peringatan dini

GempaWatch menampilkan pola historis dan konteks risiko, bukan prediksi. Kami tidak pernah, dan tidak akan, menyatakan bahwa gempa akan terjadi — ilmu kegempaan saat ini tidak memungkinkan itu. Untuk peringatan dini tsunami resmi, selalu rujuk sistem resmi BMKG. Kami melengkapi, bukan menggantikan, mandat resmi tersebut.

Sumber data

BMKG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
Sumber resmi Indonesia untuk gempa langsung, diperbarui setiap ±5 menit. BMKG hanya memaparkan 15 kejadian terakhir per feed, sehingga kami mengakumulasi riwayatnya sendiri dari waktu ke waktu. Atribusi BMKG bersifat wajib pada setiap halaman yang menampilkan datanya.
USGS — United States Geological Survey
Arsip historis global (1970–kini) yang dibatasi pada kotak koordinat Indonesia, M4.0 ke atas. Ini yang mengisi kekosongan historis yang tidak bisa disediakan BMKG.
Ketika keduanya melaporkan gempa yang sama
Kejadian yang tercatat dalam selisih 5 menit dan 50 km dianggap satu kejadian, dan catatan BMKG diprioritaskan karena lebih akurat secara lokal. Bacaan yang lebih baru dari 1 jam ditandai awal, karena BMKG masih dapat merevisi magnitudo dan kedalamannya.

Cara skor dihitung

Satu angka 0–100, dari empat komponen berbobot tetap, dalam radius 100 km dari titik pusat wilayah.

Sebelum angkanya: skor ini kami susun sendiri. Kejadian gempanya resmi dari BMKG dan USGS, tetapi keputusan bahwa frekuensi bernilai 40 sementara kedekatan sesar bernilai 15 adalah pilihan kami — bukan standar seismologi, bukan indeks resmi BMKG, BNPB, atau lembaga lain. Lembaga berbeda bisa membobot bahan yang sama secara berbeda dan mendapat angka berbeda. Karena itu seluruh aturannya kami buka di halaman ini dan di setiap laporan.

  • Frekuensi gempa M4+ per tahunmaks 40

    Seberapa sering wilayah ini berguncang.

  • Magnitudo terbesar tercatatmaks 30

    Sekuat apa kejadian terburuk yang pernah tercatat.

  • Proporsi gempa dangkal (<70 km)maks 15

    Gempa dangkal lebih terasa dan lebih merusak di permukaan.

  • Kedekatan sesar aktifmaks 15

    Dekat sesar berarti guncangan cenderung lebih kuat.

Contoh lengkap, dengan angka sungguhan

Aturan di atas baru berarti kalau dijalankan sampai selesai. Berikut satu wilayah nyata, dari data mentah hingga skor — dan bisa kamu ubah sendiri.

Ini bukan contoh karangan. Angka awalnya diambil langsung dari profil Kota Yogyakarta: 94 gempa M4+ tercatat selama 53 tahun, terbesar M6.3, 58% di antaranya lebih dangkal dari 70 km, dan sesar terdekat (Opak Fault (Yogyakarta)) berjarak 1,19 km. Empat angka itu menghasilkan skor 51,5.

Geser mana pun di bawah ini untuk melihat bagian mana yang sebenarnya menggerakkan skor.

1,77 per tahun
M6.3
58% di bawah 70 km
1 km

Skor jadi 51,5 (Sedang)

  • Frekuensi14,2 / 40

    1,77 gempa M4+ per tahun · Gempa M4+ per tahun dalam radius 100 km, penuh pada 5/tahun.

  • Magnitudo terbesar13,8 / 30

    M6.3 tercatat · Magnitudo terbesar yang pernah tercatat, M4 → 0 poin, M9 → poin penuh. Pemetaannya lurus meski skala magnitudo logaritmik — penyederhanaan yang kami pilih supaya aturannya bisa diperiksa, dan yang membuat selisih di ujung atas skala tampak lebih kecil daripada selisih energinya.

  • Proporsi gempa dangkal8,7 / 15

    58% kejadian lebih dangkal dari 70 km · Bagian kejadian dengan kedalaman di bawah 70 km, yang umumnya paling merusak.

  • Kedekatan sesar14,8 / 15

    1,19 km ke sesar terdekat · Jarak ke sesar aktif terdekat, penuh di bawah ~10 km, nol pada 100 km.

Kenapa ada dua radius? Skor di atas dihitung dalam radius 100 km supaya bisa dibandingkan langsung dengan wilayah lain, yang semuanya diukur dengan radius sama. Sementara hitungan “gempa M4+ di dekatku” pada kartu hasil memakai radius 50 km, karena itu jarak yang lebih masuk akal disebut “sekitar sini”. Angkanya beda bukan karena salah satu keliru, tapi karena keduanya menjawab pertanyaan berbeda.

Skor total 51,5 dari 100. Tiap komponen dibulatkan satu desimal sendiri-sendiri, jadi penjumlahannya bisa meleset 0,1–0,2 dari skor total — skor total yang jadi acuan.

Skor ini buatan GempaWatch. Datanya resmi — kejadian gempa dari BMKG dan USGS — tetapi pembagian bobotnya kami yang menentukan: angka 40/30/15/15 di atas adalah pilihan editorial kami, bukan ukuran baku seismologi dan bukan indeks resmi lembaga mana pun. Orang lain bisa membobot hal yang sama dengan cara berbeda dan sampai pada angka berbeda. Yang kami janjikan bukan bahwa angka ini benar secara mutlak, melainkan bahwa aturannya terbuka dan bisa kamu periksa sendiri.

Persentil memeringkat skor itu terhadap wilayah lain yang sudah kami skor, bukan terhadap seluruh Indonesia — jumlahnya masih puluhan, dan condong ke daerah yang memang aktif secara seismik. Jadi “lebih aktif dari X% wilayah” berarti X% dari himpunan itu, bukan X% dari negeri ini. Untuk cek risiko satu titik, radiusnya 50 km, bukan 100 km.

Tingkat risiko tsunami

Indikator pola historis, bukan peringatan resmi. Kriterianya: wilayah pesisir dengan gempa dangkal (<70 km) bermagnitudo ≥6.5 dalam radius 150 km.

  • Tinggi — 3 kejadian atau lebih memenuhi kriteria.
  • Sedang — 1 sampai 2 kejadian.
  • Rendah — pesisir, tanpa kejadian yang memenuhi kriteria.

Keterbatasan yang kami akui

  • Tidak dinormalisasi terhadap luas atau populasi. Jumlah kejadian dihitung dalam radius tetap, sehingga dua wilayah dengan skor sama belum tentu sebanding paparannya. Gunakan persentil untuk perbandingan relatif.
  • Status “pesisir” adalah penyederhanaan. Kami memakainya sebagai pendekatan untuk episentrum lepas pantai, bukan penentuan geospasial garis pantai yang presisi.
  • Catatan historis tidak merata. Kepadatan instrumen seismik meningkat pesat sejak 1970-an, sehingga kejadian lama lebih jarang tercatat daripada kejadian baru — bukan berarti dulu lebih tenang.
  • Riwayat bukan jaminan masa depan. Wilayah berskor rendah tetap bisa mengalami gempa besar. Skor rendah berarti “jarang tercatat”, bukan “aman”.

Atribusi