Kurulung
Getar. Rangka dipegang, tabung dasar digoyang kiri-kanan selama nada berlangsung. Anjuran 2–3 goyangan per detik.
Simulator angklung yang bisa langsung Anda mainkan di peramban. Bunyinya disintesis dari model fisik tabung bambu — tanpa satu pun rekaman.
Maka sebuah lagu bukan soal satu alat musik, melainkan soal satu ruangan berisi orang — masing-masing memegang satu atau dua angklung, masing-masing menunggu giliran nadanya. Angklung itu alat musik yang tersebar. Memainkannya adalah persoalan koordinasi, dan itulah yang disimulasikan di sini.
Delapan angklung, digambar sesuai ukuran aslinya: makin panjang tabungnya, makin rendah nadanya. Masing-masing alat musik yang utuh, dan masing-masing hanya bisa satu nada. Angka di bawahnya adalah identitasnya — itu yang diberi aba-aba oleh pemimpin ansambel, bukan nama nadanya.
Ketuk angklung mana pun di atas — atau tekan tombolnya.
Suara hanya bisa dinyalakan lewat sentuhan Anda — begitu aturan peramban, terutama di iOS.
Sekarang mainkan satu lagu
Mainkan lagunya, dan angka-angka ini terisi sendiri.
Empat nada, tiga nada berbeda. Angka-angka di bawah ini dihitung oleh pembagi yang sama yang dipakai di seluruh situs — bukan ditulis tangan.
Pertama, catat kapan tiap nada berbunyi dan berapa lama.
Nada berbeda: C4 · E4 · G4
Lalu bandingkan tiap pasang nada: pernahkah keduanya berbunyi pada saat yang sama?
Nada yang pernah bertabrakan harus dipegang orang yang berbeda. Yang tidak pernah bertabrakan boleh menumpang di satu pasang tangan.
Jadi frasa ini butuh 2 orang.
Geser G4 ke kiri sampai ia ikut berbunyi bersama C4 dan E4. Tidak ada nada yang ditambah atau dibuang — yang berubah hanya kapan satu nada dimulai — dan jumlah orang yang dibutuhkan ikut berubah. Di situlah letak persoalannya: bukan pada berapa banyak nadanya, melainkan pada berapa banyak yang berbunyi bersamaan.
Contoh ini sengaja dibuat sependek mungkin agar bisa dihitung dengan tangan. Lagu sungguhan punya puluhan nada, tetapi aturannya persis sama — tidak ada aturan tambahan yang muncul belakangan.
Goyang angklung, tabung bambunya memukul rangka. Cuma satu nada yang bisa keluar — tidak ada nada kedua di dalamnya.
Karena itu satu lagu harus dibagi. Tiap orang memegang satu atau dua angklung dan menunggu giliran nadanya tiba.
Pemimpin ansambel memberi isyarat nomor dengan tangan. Nomor itulah identitas tiap angklung, bukan nama nadanya.
Hampir semua aplikasi angklung adalah papan suara: ketuk gambar bambu, keluar nada. Itu menirukan bunyinya dan melewatkan alat musiknya. Di sini bunyinya disintesis dari model fisik tabung bambu — tanpa satu pun rekaman — dan sebaran nadanya ke banyak pemain justru menjadi isi utamanya.
Getar. Rangka dipegang, tabung dasar digoyang kiri-kanan selama nada berlangsung. Anjuran 2–3 goyangan per detik.
Sentak. Tabung dasar ditarik cepat ke telapak tangan. Berbunyi sekali saja — pendek, seperti pizzicato.
Seperti kurulung, tetapi satu tabung ditahan kelingking sehingga tidak ikut bergetar. Lebih lembut, lebih sedikit nada atas.
2–3 Hz · kurulung
Yang paling menarik: tengkep
Pada angklung melodi, tengkep membungkam tabung oktaf sehingga terdengar satu nada murni, bukan dua seperti biasanya. Pada angklung akompanimen mayor, tanpa tengkep empat tabung berbunyi sebagai akor septim dominan; satu tabung ditahan kelingking dan yang tersisa adalah trinada mayor. Jadi kelingking pemain adalah sakelar kualitas akor.
Laboratorium teknikLagu yang dimuat di sini hanya yang domain publik atau ciptaan sendiri — dan belum ada satu pun lagu rakyat Sunda. Bukan karena hak cipta: Cing Cangkeling dan Tokecang memang tanpa pencipta tercatat. Alasannya ketepatan. Memuat melodi yang keliru dengan nama aslinya adalah penggambaran yang salah terhadap tradisi yang masih hidup, dan menyalin not angka dari satu sumber tanpa pembanding belum cukup untuk memastikannya. Kekosongan ini disengaja dan sebaiknya diisi — syaratnya dicatat di data/melodies/README.md.