Lompat ke isi
Anatomi RupiahEN· Bahasa

Diraba

Kode tuna netra

Uang Rupiah membawa tanda yang dirancang untuk dibaca tanpa penglihatan. Hampir tidak ada orang awas di Indonesia yang tahu tanda itu ada.

Pasangan garis timbul di tepi kiri dan kanan uang, yang memungkinkan pecahan dikenali dengan meraba.

Kodenya adalah relief, bukan gambar. Ia berada di tempat yang sama pada setiap pecahan, sehingga jari tahu ke mana harus pergi sebelum tahu jawabannya.

  1. Letaknya tetap: tepi kiri dan kanan, dekat sisi luar lembar.
  2. Jumlah pasangan garis bertambah seiring turunnya pecahan, sehingga hitungan jari langsung menjadi jawabannya.
  3. Garisnya timbul, bukan sekadar dicetak. Karena itu ciri ini termasuk kanal diraba — dan karena itu pula ia tidak dapat disampaikan lewat layar.

Unduh diagram (SVG)

Apa yang diamati

  • Rabakan ujung jari pada tepi kiri atau kanan lembar uang. Garisnya pendek, miring, dan terasa kasar.
  • Jumlah pasangannya menandai pecahan: Rp100.000 sepasang, Rp50.000 dua pasang, Rp20.000 tiga pasang, dan seterusnya bertambah satu pasang tiap turun satu pecahan hingga Rp1.000 dengan tujuh pasang.
  • Panjang tiap pecahan juga berbeda 5 mm, sehingga ukuran lembar ikut membantu membedakannya.

Sapukan cahaya

Layar tidak bisa menyampaikan rabaan, tetapi bisa menunjukkan akibat lain dari cetakan timbul: tinta yang berdiri di atas permukaan menangkap cahaya dari sudut rendah dan menaungi sisi seberangnya. Geser arah cahayanya.

20°

Permukaan pada peragaan ini adalah deretan punggungan biasa, bukan ukiran pada uang mana pun. Ini menunjukkan bagaimana relief menangkap cahaya — bukan pengganti merabanya. Untuk itu tetap ambil uangnya.

Jumlah pasangan garis

Jumlah pasangan garis timbul per pecahan
PecahanEmisiPasang garisPanjang
Rp100.000TE 20221151 mm
Rp100.000TE 20161151 mm
Rp50.000TE 20222146 mm
Rp50.000TE 20162149 mm
Rp20.000TE 20223141 mm
Rp20.000TE 20163147 mm
Rp10.000TE 20224136 mm
Rp5.000TE 20225131 mm
Rp2.000TE 20226126 mm
Rp1.000TE 20227121 mm

Lihat juga langkah 3D.

Sumber