Lompat ke isi
Anatomi RupiahEN· Bahasa

3D — Dilihat, Diraba, Diterawang

Tiga langkah yang diajarkan Bank Indonesia, dan alasan fisik di balik masing-masing. Urutannya disusun agar tidak memerlukan alat apa pun: mata, jari, lalu cahaya jendela.

Kalau ada Rp100.000 (TE 2022) di tangan, inilah persisnya yang akan Anda temukan pada langkah ini — bukan aturan umum, tapi pecahan yang sama dari awal sampai akhir.

  1. Langkah satu

    Dilihat

    Pegang uang dalam cahaya biasa dan miringkan perlahan. Perhatikan bagian yang warnanya bergeser mengikuti sudut pandang Anda.

    Ciri pada langkah ini

    Pada pecahan ini

  2. Langkah dua

    Diraba

    Rabakan ujung jari pada gambar utama, angka nominal, dan tepi lembar. Yang dicari adalah permukaan yang terasa kasar dan timbul.

    Ciri pada langkah ini

    Pada pecahan ini

  3. Langkah tiga

    Diterawang

    Angkat uang ke arah cahaya. Yang muncul hanya muncul karena cahaya menembus bahan uang, bukan memantul darinya.

    Ciri pada langkah ini

    Pada pecahan ini

Di luar tiga langkah

Kanal keempat

Ada ciri yang tidak masuk 3D karena memerlukan alat: unsur yang hanya tampak di bawah sinar ultraviolet, dan ciri yang dibaca mesin penghitung. Bank Indonesia menyusun 3D dari pemeriksaan yang bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, tanpa membawa apa pun.

Pada pecahan ini

Setelah tiga langkah

Situs ini tidak menyimpulkan apa pun tentang selembar uang tertentu, dan tidak akan pernah melakukannya. Bila ada yang meragukan, bawa uang itu ke bank atau ke kantor Bank Indonesia. Kewenangan menentukan keaslian Rupiah ada pada Bank Indonesia.

Satu langkah tidak bisa dilakukan di sini

Diraba adalah pemeriksaan dengan ujung jari. Layar tidak punya tekstur; getaran ponsel tidak menirukan cetakan timbul, dan animasi hanya akan mengajarkan hal yang salah. Situs ini menerangkan apa yang harus dirasakan, lalu berhenti di situ.

Diraba tidak bisa lewat layar. Ambil uangnya, rasakan cetakan timbulnya.